| TIGA KORBAN KERACUNAN GAS GENSET MASIH DIRAWAT |
|
| Selasa, 09 Februari 2010 14:47 |
Ambon - Sedikitnya tiga dari tujuh korban kritis akibat keracunan setelah menghirup gas karbondioksida (CO2) yang dihasilkan mesin genset masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Tentara (RST) Ambon."Saat dibawa ke Unit Gawat Darurat (YGD) RST Senin kemarin (8/9), kondisi tubuh mereka dalam keadaan lemas dan tidak mengetahui identitas diri sendiri," kata dr Novi Chandra di Ambon, Selasa. Tiga korban yang masih dalam kondisi kritis adalah Sherly Sinay (21), Martini (18) dan Ahmad Tuasikal (54), sedangkan empat korban lain yang kondisinya sudah membaik di antaranya Lia Latuconsina (18), Ivon Sinay (15), Yopi Noya (41) dan Ferdinand Sinay (55). Para korban keracunan gas CO2 itu merupakan pemilik dan karyawan Toko Aneka Cayaha, yang menjual aneka tekstil yang terletak di kawasan Jl AY Patty, tepatnya di lorong Naga Kuning Nomor 47, Ambon. "Kami sedang melakukan pemeriksaan untuk membuktikan apakah benar mereka keracunan akibat menghirup gas beracun yang dihasilkan knalpot mesin genset atau karena akibat lain," katanya. Ferdinand Sinay menjelaskan, dirinya mendatangi toko tekstil tersebut untuk menjemput kedua anaknya Sherly dan Ivon yang sedang bekerja di lantai dua bangunan itu sekitar pukul 14.00 WIT. Melihat kondisi karyawan yang dalam kondisi lemas, pusing dan mual-mual, Ferdinand mengingatkan Ahmad Tuasikal selaku pemilik toko agar segera membawa karyawannya ke Rumah Sakit untuk berobat karena telah menghirup gas beracun dari mesin genset yang diletakkan dalam ruang kerja di lantai dua toko. Namun pemilik toko mengatakan, kemungkinan karyawan itu disantet orang sehingga Ferdinand sempat mencari `orang pintar` untuk mengobati para karyawan dan pemilik toko, namun orang pintar ini juga nyaris pingsan gara-gara ikut menghirup gas CO2. "Meskipun saya sudah merasa pusing dan mual, namun tetap berupaya membawa seluruh korban ke RST untuk diobati," katanya. Pemilik toko terpaksa menghidupkan mesin gensetnya karena PT. (Persero) PLN wilayah IX Maluku dan Maluku Utara masih memberlakukan pemadaman bergilir antara enam hingga 12 jam setiap hari di Kota Ambon. Pemadaman bergilir ini juga mengakibatkan Toko Barokah di samping Masjid Raya Al Fatah Ambon terbakar Minggu Subuh (7/2) karena menggunakan lilin. Tiga bulan menjelang akhir 2009, seorang warga juga tewas tersengat aliran listrik dari mesin genset berkekuatan 5 KWH dan tiga bilik di asrama militer kawasan Benteng, kecamatan Nusaniwe (Kodya Ambon) musnah terbakar akibat pemadaman bergilir PLN. LebihCepat.com - Harian Berita Indonesia | Internasional | Terbaru |




Ambon - Sedikitnya tiga dari tujuh korban kritis akibat keracunan setelah menghirup gas karbondioksida (CO2) yang dihasilkan mesin genset masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Tentara (RST) Ambon.









